Mengapa Membaca Buku?
Mengapa membaca menimbulkan pertanyaan? Pertanyaan sendiri timbul atas dasar belum tersampaikannya maksud atau inti dari pembicaraan atau pokok bahasan tertentu pada seseorang, biasanya juga timbul karena ada masalah di dalamnya yang memaksa pikiran untuk bekerja dengan melemparkan statement dan pertanyaan yang akan memantik diskusi. Lantas ada apa dengan membaca? Salah satu kegiatan yang penting dalam tumbuh kembang kehidupan subjektifitas manusia dan kehidupan peradaban suatu bangsa.
Sebenarnya, jika disuruh untuk mengakui, kita semua tentu akan menyetujui bahwa membaca memanglah suatu kegiatan yang krusial yang harusnya menjadi agenda pokok harian kita. Membaca adalah suatu cara untuk menggali informasi dari berbagai dimensi waktu dan berbagai tempat tanpa harus berpindah posisi. Membaca mampu menggugah imajinasi tentang fakta-fakta masa lampau, cara hidup yang baik masa sekarang, dan teori-teori prediksi akan masa depan.
Mari fokus pada apa yang mulai ditinggalkan terutama oleh kaum millenial yang diharapkan akan banyak melukis lukisan indah untuk negeri, BUKU. Bukulah dimana kita dapat menemukan gerbang ajaib untuk mengetahui segala informasi tentang apapun yang bukan rahasia lagi. Bukulah, dimana kita bisa menjamah pengalaman-pengalaman hebat dari orang-orang besar yang berpengaruh. Dengan bukulah kita bisa mengeksplor dan menjajaki pemikiran orang lain. Membaca buku mampu membuat kita berkeliling dunia tanpa mengupah. Lalu mengapa ia seolah asing dan terlupakan? Seolah janji-janji yang pasti dari hasil membaca adalah dusta, padahal hanya perkara enggan dan kemalasan jiwa untuk menyelami dalamnya makna dari ribuan kata.
Generasi millenial merupakan harapan bangsa, harapan untuk melakukan perubahan besar menuju kemajuan dan kemakmuran dari berbagai aspek. Lalu apa jadinya generasi yang diharapkan tanpa bekal ilmu dan pengetahuan yang banyak? Ilmu pengetahuan dari sekolah dan kampus saja belum cukup, ya belum cukup untuk membuka pikiran kita tentang banyak hal di luar sana. Sedangkan kita dituntut untuk berperan aktif mengikuti perkembangan zaman dan menghadapi segala ketidakpastian yang ada di depan.
Oleh karenanya, tulisan ini ada. Ia timbul atas dasar keresahan akan fenomena yang secara nyata terjadi hari ini. Tulisan-tulisan dalam kertas berjilid dan bersampul itu terasa asing dan menjemukan. Ia mulai tersingkir dari tangan-tangan generasi millenial, dimana perhatian dan cita-cita generasi saat ini nyaris tak lagi selaras dengan cita-cita bangsa.
Mari kita merenung sejenak, sebagai manusia yang pada hakikatnya ingin menjadi maju dan cerdas, serta memberikan sebesar-besarnya manfaat kepada sesama bahkan agama dan negara.
"Barangsiapa yang menapaki suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Ibnu Majah & Abu Dawud)
Hadist ini harusnya sudah sangat cukup membangkitkan gairah untuk berjuang melawan kebodohan, berjuang menggali dalamnya ilmu melalui buku-buku meski kerikil-kerikil kemalasan hendak menghalangi.
Buku memang bukan segala-galanya, namun dengan buku kita bisa memperoleh lebih dari segala ekspektasi kita. Apalagi di tengah pandemi seperti ini, rasa malas dan jenuh seolah menjadi kuat dari normal lama, jangan sampai rasa malas menjadi perasaan yang telah membaur akrab dengan jiwa tanpa sapa. Maka, penting memanfaatkan waktu yang ada dengan mengisi ruang akal dengan ilmu sebanyak-banyaknya.
Bukan ilmu yang seharusnya mendatangimu,tapi kamu yang seharusnya mendatangi ilmu.
(Imam Malik)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar