“TENAGA MEDIS”
Sungguh... Virus corona menjadi masalah baru yang mengawali
tahun 2020 ini. Waktu yang berjalan maju berbanding lurus dengan jumlah
penderita yang terinfeksi. Semakin hari semakin bertambah. Virus ini
menjangkiti setiap insan dengan cepat tanpa pandang suku, ras, agama, bahkan
kedudukan.
Kali ini saya tidak akan membahas panjang tentang virusnya,
tetapi sesuai judul yang saya cantumkan yaitu tentang para pejuang di garda
terdepan. Siapa mereka? Iya, para tenaga medis, yang dengan sukarela mengerahkan
kekuatan jiwa dan kebesaran hati mereka untuk melayani pasien-pasien yang
terinfeksi Covid-19 ini.
Kita tahu bahwa sebagai pekerja dalam bidang kesehatan, itu
sudah menjadi tugas dan tanggung jawab mereka. Namun lain dalam kasus ini,
tugas dan tanggung jawab itu kini menjadi berlipat-lipat lebih keras dan
melelahkan.
Mereka harus memakai pakaian yang kurang nyaman, pakaian yang
terbuat dari plastik yang berlapis-lapis, mereka harus menahan keluh atas
kondisi dan tuntutan pekerjaan. Mereka harus menahan dahaga dan hajat mereka
demi keselamatan para pasien, demi mengabdi pada masyarakat. Hingga terkadang
mereka lupa akan keselamatan mereka sendiri. Mereka melawan rasa takut mereka dari tertularnya
virus yang dibawa oleh pasien mereka.
Mereka rela meluangkan waktu tidur mereka demi para pasien.
Bahkan mungkin beberapa dari mereka harus tidur di rumah sakit. Mereka mengesampingkan urusan mereka dan keluarga mereka. Mereka
menghindari pulang kerumah demi keselamatan keluarga mereka.
Adakah kita bersimpati pada mereka?
Terkhusus Negara kita tercinta, Indonesia. Saya salut atas
perjuangan tenaga-tenaga medis yang kita miliki. Terasa sesak dada
saya mengingat kondisi dunia sekarang ini yang semakin memburuk saja. Kita
diperintah untuk stay at home,
sementara mereka? Mereka harus bekerja, bukan untuk uang. Tetapi atas dasar
pengabdian, bahkan nyawa mereka menjadi taruhan.
Hampir
setiap hari siaran di televisi mengabarkan tentang jumlah orang dalam pemantauan, pasien dalam pengawasan, orang yang sembuh, dan orang yang
meninggal. Kabar tersebut membawa duka tersendiri serta rasa cemas dalam dada.
Namun, ada sepenggal rasa lega tersisa ketika tahu bahwa beberapa dari pasien
dapat sembuh. Sembuh dan meninggalnya seseorang adalah bagian dari takdir yang
Maha Kuasa, tetapi tak bisa kita pungkiri bahwa ada perjuangan dari para
pahlawan kesehatan disana.
Ada
hal yang semakin menambah rasa sakit di dada, kala mengetahui sang pahlawan di
garda terdepan ikut terinfeksi virus ini. Memang tak bisa dipungkiri, sebab
mereka hanya bisa stay at hospital,
dimana orang yang positif virus ini dilarikan. Itu artinya bukan sebuah
kemustahilan bahwa mereka bisa kapan saja tertular, mereka juga manusia biasa. Menjadi duka mendalam bagi kita dan bangsa ini kala mendengar beberapa di antara mereka meninggal dunia.
Adakah
kita akan membantu mereka? Dengan apa? Ya, dengan usaha dan doa kita. Usaha
yang kita upayakan mungkin tak seberat yang mereka lakukan. Usaha kita adalah
dengan tetap dirumah, menjaga diri dari keramaian, serta menjaga kebersihan dan
kesehatan. Doa-doa kita haruslah kuat pula. Sebagaimana kuatnya keinginan kita
untuk segera lepas dari mimpi buruk ini.
Diri pribadi ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pahlawan yang selalu siap berada di garda terdepan dalam membantu para pasien yang terus berjatuhan. Jujur
saja, hampir tumpah air di mata ini menuliskan kata demi kata tenttang jasa-jasa pahlawan di garda terdepan ini. Tercurah sudah segala kata yang ada dalam benak. Semoga pesan-pesan singkat ini dapat meningkatkan
kesadaran bagi kita semua akan bahaya dari virus Covid-19 ini, serta menumbuhkan simpati kita pada
pahlawan yang sekarang sedang berjuang.
Syukron;)
#NulisYuk
saat ini garda terdepan memang tenaga medis ya kak, makanya salut banget dan tetap melangitkan doa pada mereka buat tetap sehat selalu
BalasHapus