Selasa, 21 Juli 2020

Insecure's Story

GENERASI INSECURE


Kenapa kita mesti merasakan insecure itu?
Aku juga sering ngerasa insecure, ngerasa paling bodoh, kurang cantik, dan gak pedean. Liat temen pinter public speaking ato dengan mudahnya nyampein bahan presentasi di depan kelas, udah ngerasa kalo aku yang paling kaku kalo udah jadi pusat perhatian. Liat temen dengan gampangnya ngangkat tangan pas dikasih pertanyaan sama dosen, aku udah ngerasa kalo tanganku yang paling gak pernah dilirik dosen dan secara gak langsung memberi kesan kepada orang sekitar kalo aku orangnya bodoh. Lagi, semakin bodohnya adalah aku juga suka ngerasa insecure kalo ngeliat teman-temanku tuh cantik-cantik gitu mukanya, padahal ya cuman titipan kan yak. Hihi, candalah!

Kalo semakin dipikir-pikir, justru rasa insecure ini adalah rasa yang cuman bikin kita semakin rendah, bodoh, dan gak berkembang. Rasa insecure gak pernah nyuruh kita buat merubah diri jadi lebih baik, tapi malah sebaliknya. Rasa insecure gak pernah ngasih motivasi buat ngambil pelajaran dari orang-orang yang hebat itu, tapi malah mengiyakan kerendahan diri kita sendiri. Rasa insecure cuman bisa bikin kita menikmati keterombang-ambingan yang pada akhirnya menyesal karena gak pernah mau bangkit dan sadar. 

Kalo semakin dipikir-pikir, pusing juga ya dengan keadaan diri sendiri yang masih gini-gini aja. Lelah juga ya cuman bisa berpasrah dengan posisi diri yang berada di bawah orang-orang itu. Kalo kita kembali ke pertanyaan awal, kenapa kita mesti merasakan insecure itu? Tanya pada diri sendiri...
Sebenarnya yang paling tahu dan paham jawabannya ya diri kita sendiri. Kalo jawabanku, karena aku dulu gak mau pernah paham apa mauku selama ini, apa yang ingin aku capai atau cita-citakan, dan apa yang harus aku lakukan untuk mencapai itu.

Mungkin, selama ini aku cuman ngikutin arus kehidupan tanpa ada motivasi untuk memperjuangkan sesuatu. Dalam pikiranku, sesuatu yang diperjuangkan itu harus nampak, padahal gak harus juga. Terlalu naif dan berharap lebih atas masa depan, tetapi gak mau mencari tahu seperti apa jalan menuju kesana. Sadar hey.. masa depan cerah gak didapat dengan hanya membalikkan telapak tangan. Kalo dalam dunia kampus... gak cukup kalo cuman ngisi daftar hadir, duduk dalam kelas, dengar materi dan iya iya aja, trus pulang. Kita perlu menekan tombol power ON dan mengaktifkan diri di antara sebagian kecil teman-teman kita yang juga aktif. Jadilah yang di tonton. (Teguran untuk diri sendiri)

Kembali ke insecure. Pesanku... Kita harus menghargai diri sendiri dan bersyukur apapun kita saat ini. Bentuk penghargaan itu adalah dengan tidak memberi penilaian yang buruk atau negatif terhadap apa yang kita tidak miliki dan tidak kuasai. Masalah mampu atau tidak, itu bisa dilatih. Asalkan siap berproses dan menjadi versi terbaik bagi diri. Sedangkan, bentuk syukur sendiri adalah dengan memanfaatkan dan memaksimalkan potensi yang udah Allah kasih. Belajar, berlatih, fokus, dan maksimalkan supaya bisa menguasai suatu bidang tertentu. Kalo sudah bisa menggait dua kalimat ini dalam kehidupan, Insyaa Allah rasa insecure bisa perlahan padam.

Sekarang, aku sudah mulai belajar mengendalikan diri dan membuang jauh-jauh rasa insecure yang datang. Berusaha menghargai diri sendiri. Kalo memang aku gak mampu ya bukan berarti aku pasrah, tapi mencoba untuk mempelajari dan menjadi bisa. Gak mesti harus sama dengan orang lain. Setiap orang punya ciri khasnya. Kalo tidak tahu dan tidak paham tentang sesuatu hal ya cari tahu dan bertanya pada yang tahu, jangan diam di tempat.

Memahami kapasitas diri sekarang dan kapasitas yang udah dikasih sama Allah, bahwa sebenarnya kita dikasih kapasitas yang luarbiasa besar, tinggal diisi dan digunakan semaksimal mungkin. Ingat... setiap manusia dikasih kapasitas yang sama. Namun, dalam segi pemanfaatan ya kembali ke orangnya masing-masing. Adapun kelebihan atas beberapa orang di luarsana itu bonus, gak perlu terlalu fokus kesana. Kita akan selamanya menjadi sosok yang suka insecure kalo gak pernah mau belajar, gak mau keluar dari zona nyaman, dan selalu merasa lebih baik menjadi orang yang rata-rata ato yang biasa aja. Gak punya keinginan untuk menjadi berbeda dari oranglain dan gak punya niat untuk menebar manfaat bagi umat, salah satunya dengan mencipta karya.

Sabtu, 18 Juli 2020

5 Hari Jadi Santri dan Banjir Bandang Masamba

Pagi itu hujan terus turun dengan intonasi yang tidak tetap. Tepatnya hari Jumat, 10 Juli 2020 adalah hari keberangkatan menuju Pondok Pesantren Al-Fattah Cabang Temboro Masamba, dengan mengendarai motor yang ditemani oleh kakak perempuanku dan membawa sedikit barang-barang harian, kami melaju dengan kecepatan konstan. Tidak kencang dan tidak lambat. Perjalanan tidak cukup jauh bagiku, sekitar 30 km dari tempat tinggalku. Hujan terus mengguyur dengan intensitas rendah dan kami tetap memaksa melaju dengan bermodalkan jaket tebal yang kami pakai. Hampir setiap pagi dan malam hujan turun di awal bulan Juli ini, dan sudah beberapa kali juga kami mendengar beberapa desa di sekitar Kota Masamba terendam banjir.

Tidak sampai 1 jam akhirnya kami sampai di pondok, dengan menyusuri lorong jalan yang cukup jauh dan kondisi jalan yang kurang baik. Di pondok sudah ada keponakanku yang tinggal sejak hari senin, sedangkan aku hanya berencana tinggal selama sebulan saja untuk mengisi liburan kuliahku. Hari pertama berjalan begitu saja, semua nampak baru bagiku, tentu saja. Hari kedua juga seperti itu, aku menjadi orang yang banyak tanya seketika. Pada hari itu, setelah pembagian kelas, aku berkenalan dengan seorang teman yang ternyata masih adik kelasku. Namanya Nur Tri Andini asal Malangke dan tak lama berselang aku juga berkenalan dengan dua orang lainnya, namanya Nurul Azizah yang ternyata satu kampung dan satu kamar dengan Nur Tri Andini, serta Nur Fadhila asal Masamba. Ada satu orang lagi tapi aku tidak mengingat nama lengkapnya, nama panggilannya Puput asal Baebunta, dia mirip adik kelas SMA-ku. Mereka semua sangat baik dan menyenangkan, baru beberapa hari berkenalan aku merasa sudah sangat nyaman dengan mereka. Khususnya Nurul Azizah yang baru saja lulus di SMAN 4 Luwu Utara, kampungku. Aku paling banyak nge-bacot sama dia, haha.

Hari-hari berlalu, semua berjalan tidak biasa. Banyak hal-hal yang aku pelajari disana, mulai dari pagi hingga malam beraktifitas dengan banyak orang dalam satu ruangan -ya, hampir 40 orang- dan mayoritas anak kecil yang baru lulus SD, mengantri mandi, dan bertemu dengan ratusan orang yang semuanya adalah perempuan. Satu hal lagi, aku tidak bisa memegang handphone dan laptop selama jadi santri, jujur saja aku belum terbiasa. Tentu, tidak semua baik dan tidak juga buruk, serta tidak semua akan kuceritakan detail disini. Semuanya adalah pengalaman dan pembelajaran bagiku.

Hingga pada hari Selasa, 14 Juli 2020 pagi hari, orangtua santri datang ke pondok untuk menjemput anaknya. Saat itu adalah jam belajar pagi, dimana aku dan beberapa santri lainnya telah duduk di kelas menunggu ustadzah datang. Salah satu santri yang akan dijemput orangtuanya masuk ke ruangan tempatku belajar, sambil menangis haru hendak mengemasi semua pakaiannya di lemari. Teman-temannya mendekat dan bertanya akan keadaannya, anak itu menjawab sambil tetap menangis tak kuasa menahan air mata bahwa rumahnya terendam banjir, Kota Masamba terendam banjir.

Saya pribadi belum mengetahui kondisi sebenarnya saat itu, apa yang terjadi dengan masamba, banjirnya separah apa, karena kami tidak bisa menghubungi siapapun dan tidak bisa melihat berita di sosial media. Saya, Puput, dan Nur yang saat itu berada dalam satu ruangan hanya bisa menangis menyaksikan beberapa santri lainnya yang turut juga menangis memikirkan orangtua dan keluarga mereka yang tinggal di Masamba.

Satu per satu orangtua santri datang menjemput anak-anak mereka diikuti kecemasan dan tangisan. Suara salah satu ustadzah terdengar memanggil seluruh santri melalui toak untuk berkumpul dan berdzikir di masjid yang berada ditengah gedung kelas. Suasana cukup menegangkan bagiku, kami hanya bisa mendengar berita yang disampaikan dari mulut ke mulut, dan aku masih berada pada posisi belum mengetahui kondisi sebenarnya. Salah satu ustadzah menyampaikan untuk membaca surah Al-Zalzalah bersama-sama hingga hujan mereda. Tak sampai satu jam kami berdzikir bersama, hujan yang turun dengan intensitas sedang saat itu akhirnya berhenti, dan langit mulai cerah kembali.

Saat itu sekitar pukul 11 siang, setelah selesai dzikir bersama, kami langsung menuju ke ruangan kami masing-masing. Suasananya masih sama, haru dan cemas. Beberapa santri mulai mengemasi barang-barang mereka dan mengganti pakaian menjadi pakaian bernuansa hitam. Sedangkan aku... dalam kondisi yang kurang sehat, memilih menggelar kasur ukuran satu orang di lantai dan berbaring hingga dua jam lamanya, hingga adik keponakanku memberi kabar bahwa semua santri akan dipulangkan hari itu juga. Pihak pondok sudah menghubungi semua orangtua santri untuk menjemput anak-anak mereka. Dengan kondisi yang seperti itu, aku mengemasi barang-barangku dan keponakanku, ada rasa senang saat itu karena aku bisa pulang ke rumah, namun sedihnya dengan keadaan yang aku sendiri masih belum menemui titik kejelasan. Aku masih mengira Kota Masamba tidak terlalu rusak parah dan berita banjir yang sampai di telingaku adalah berita yang belum menguasai pikiranku. Ya... karena aku belum melihatnya langsung baik video maupun gambar.

Keadaan di pondok menjadi tidak stabil, semua sibuk dengan urusannya masing-masing, dan sebagian lagi ada yang menangis bersama teman-temannya seraya berpamitan. Aku dan keponakanku, juga teman-temanku duduk di salah satu kursi-kursi di taman depan kelas, sambil menunggu jemputan, kami bercerita cukup banyak mengenai kondisi masamba, siapa yang akan menjemput, dan saling melempar ucapan perpisahan. Sebelumnya, aku sudah memberikan nomor WA-ku kepada mereka, berharap setelah sebulan mondok nanti aku tetap bisa saling berkabar dengan mereka -ketika mereka juga libur-.
Setelah menunggu cukup lama, saat itu waktu menunjukkan hampir jam 3 sore, kedua kakakku akhirnya tiba di pondok dengan membawa dua motor. Wajahnya terlihat sedih dan khawatir, dia mengabarkan bahwa kondisi Masamba sudah rusak sangat parah, dan beruntungnya daerah pondok kami masih aman dari terjangan banjir semalam.

Handphone sudah di tangan, namun tidak ada sama sekali jaringan disana. Jujur saja aku sangat penasaran dengan kondisi kotaku, Masamba, dan mengkhawatirkan salah satu sahabatku, Zaza, yang  juga tinggal disana. Di saat yang bersamaan, aku juga tidak tega pulang lebih dulu dengan melihat dua temanku yang tidak pasti dengan jemputannya. Sementara santri yang tidak ada jemputan terpaksa akan diungsikan. Namun, pada akhirnya aku berpamitan dengan mereka, Nur dan Nurul, mereka menangis saat kami berpelukan. argh... baru beberapa hari kami kenal, tapi aku merasa sudah mengenalnya dengan baik. Semoga mereka baik-baik saja.

Akhirnya aku tiba di rumah, bertemu kedua orangtuaku dan membersihkan diri. Aku mulai membuka sosial media dan mencari-cari berita, terkejut dan tidak menyangka, rumah-rumah tenggelam beberapa hanya terlihat atapnya saja, taman-taman, dan juga masjid Agung Syuhada yang menyimpan beberapa kenangan kecil pun turut tergenang air beserta lumpur. Dan juga yang sangat menyayat hati adalah  banyak korban yang meninggal dan puluhan yang dinyatakan hilang. Kejadiannya malam hari, Hari Senin, saat itu aku sedang berada di pondok dengan mengikuti kegiatan yang cukup berbeda dengan malam-malam sebelumnya, kami dzikir bersama di masjid, ya... tidak seperti biasanya. Aku hanya mengira itu adalah salah satu agenda di malam Selasa. Mungkin, saat itu sebagian pihak sudah tahu bahwa banjir datang melanda Masamba, namun tidak denganku.

Aku berharap semoga kotaku, kota kita, Masamba, segera pulih dan bangkit. Semua korban diberikan ketegaran dan kekuatan dalam menghadapi musibah ini, serta kesabaran atas perasaan kehilangan.
Sejatinya, semua yang ada di dunia ini sifatnya fana dan memang akan kita tinggalkan.

#MasambaBangkit
#MasambaKuat
#PrayForMasamba

KKN's Story

[Luwu Timur, 27 Juni 2022 - 20 Agustus 2022] Tak terasa, waktu bagai angin lalu yang sepersekian detik menerpa tubuhku.. Masa 55 hari ber-KK...