Memutuskan memilih jalan
Menjadi bagian kecil dari mereka yang berjuang
Banyak tertatih bahkan hingga kini
Dengannya pandanganku meluas
Hatiku melembut
Ruang belajar nampak semakin nyata
Sejak takdir mengutusku memasuki gerbang perkuliahan dengan kewajiban menimba ilmu, terlalu banyak aku menoleh pada tempat belajar selain di kelas itu. Setelah dikenalkan oleh beberapa kakak yang kemudian membantuku selama masa perkuliahan hingga kini. Mengikuti kajian dari halaqah-halaqah kecil seperti saat SMA, hingga menjadi bagian dalam organisasi dakwah kampus lingkup fakultas. Namun, aku tak bisa mengingatnya dengan pasti, undangan perekrutan angggota sampai di tanganku. Melalui beberapa pertanyaan lisan berorientasi keagamaan, akupun menjadi bagian dari organisasi dakwah di kampusku.
Setahap demi setahap, aku mulai mengenal apa itu amanah yang sebenarnya. Dahulu saat masih SMA, aku hanya merasa perlu mengerjakannya. Saat ini, esensi amanah menjadi penting dipahami, bukan sekedar dikerjakan, tapi bagamana cara kita bersabar diatasnya, menjadikannya sebagai pengingat diri, serta sarana untuk semakin mendekat kepada-Nya.
Lelah pasti menerpa, terkadang menggoyahkan tekad yang telah memadat. Timbul rasa ingin menyudahi dan menjalani aktivitas sehari-hari tanpa tuntutan yang bertubi-tubi. Ingin lari dan menjadi mahasiswi seperti pada umumnya saja. Tak ingin disusahkan dan menyusahkan diri. Itulah masa dimana aku belum sepenuhnya bisa memahami arti perjuangan dalam jalan yang telah kupilih sendiri.
Sejatinya, ujian keimananku berlangsung disana. Seberapa kuat aku bertahan dan seberapa ikhlas aku menjalani. Seberapa besar kerelaanku menyerahkan segala urusan pada-Nya. Aku banyak ditempa.
Semenjak pandemi awal tahun 2020 yang mengguncang di berbagai negara termasuk Indonesia dan berbagai kegiatan dibatasi termasuk kegiatan perkuliahan yang berpindah sistem menjadi daring, amanah dakwah terasa semakin berat. Kesendirian yang kini dirasakan setelah sebelumnya selalu berada dalam jamaah, semakin memperburuk keteguhan dan mengundang banyak kemalasan.
Kegiatan-kegiatan dakwah tak selalu berjalan sesuai keinginan. Kami memahami bahwa hambatan akan senantiasa mengiringi. Namun, berbagai kegiatan yang telah direncanakan di awal kepengurusan adalah bagian dari kewajiban amanah yang harus tetap diupayakan. Meski target waktu dan peserta yang tak selalu sesuai apa yang tertulis dalam draft, namun ada rasa kelegaan ketika satu per satu berhasil dijalankan.
Aku selalu bertanya-tanya, apa esensi dakwah yang direncanakan dalam sebuah kegiatan rutin maupun tahunan?
Entah apa yang akan kutulis setelahnya, namun aku merasa senang berada dalam lingkaran ukhuwah ini. Meski tak sekali dua kali tersambar gejolak prasangka dan kesesakan di hati, tapi aku berusaha menyadari bahwa hal itulah yang sejatinya menguatkan persaudaraan, menjadi bahan muhasabah, serta menguatkan keyakinan bahwa hidup tak mungkin tanpa ujian. Dengan adanya amanah, mampu mendorong kita untuk selalu meminta pertolongan-Nya.
Ingin tetap di jalan ini. Berharap menjadi wasilah menguatkan keimanan dan keistiqomahan, bukan menambah ketenaran sebagai seorang aktivis dakwah, bukan pula sekedar menambah relasi pertemanan dengan orang-orang yang punya reputasi. Mengingat ini semua, membuat diri kembali merenungi dan merenungi. Aku hanya ingin menjadi orang yang benar-benar berkontribusi untuk dakwah dinul islam ini hingga akhir hayat.