Beberapa hari terakhir, diri ini dilanda kegundahan tanpa kepastian sebab. Ada rasa kecewa pada seseorang, namun aku tersadar itu hanya kesia-sian. Ingin marah, namun aku kembali ingat bahwa itu tidak akan menyelesaikan konflik batin yang kembali aku sadari, mungkin saja hanya aku yang merasai, di sudut ruangan ini. Beragam pikiran menyelinap masuk tanpa permisi, membuat kegelisahan semakin menjadi-jadi. Dasar aku! Sebuah ketidakpantasan rasa, memantik hati dan jiwa untuk mencoba bersikap abai pada sesuatu yang berkaitan dengannya.
Pagi menjelang siang tadi, dalam feed youtube muncul sebuah video bertemakan cinta. Teori cinta ala plato, ya platonic love yang dibawakan oleh seorang pengajar filsafat (setahuku). Tersampaikan pesan-pesan yang menenangkan hati, rasa gundah seolah mereda bagai hujan sore ini. Hujan yang memerintah tangan dan pikiran ini dengan lembut untuk menuliskan sesuatu yang absurd.
---
Setelah beberapa bulan berlalu, tanganku kembali memandu untuk menuntaskan tulisan gak jelas ini. Hari ini, 9 Februari 2021 pagi, mungkin karena kegundahan itu datang menyapa kembali akhir-akhir ini. Apakah artinya aku harus menonton nasihat tentang cinta dari plato lagi? hmm. Ujian cinta itu benar adanya.
Bagiku tak masalah mendapat ujian ini, rasa-rasanya hal ini bukan hanya aku yang mengalami. Jika saat ini aku hanya merasa sedikit sesak, mungkin banyak orang diluar sana entah laki-laki atau perempuan, entah seumuranku atau lebih dewasa, merasakan yang lebih sakit lagi. Melalui tulisan ini aku hanya mencoba menghibur dan menenangkan diri. Aku tahu, Allah tak pernah salah menitipkan ujian itu pada makhlukNya.
Tentang cinta, tak selamanya melukiskan bahagia. Hati kita harus siap atas segala kemungkinan. Apapun perasannya itu tidak akan bertahan lama, itulah yang kuyakini. Mencoba memahami dan mensyukuri harusnya menjadi kebiasaan, bukannya berlarut-larut. Entah apa yang akan kutulis setelah ini.
Teori platonic love seirama dengan bagaimana Islam mengatur perkara cinta kepada makhluk yang sepantasnya. Mencintai kebaikannya tanpa ada ikatan batin. Tanpa harap, tanpa tekanan, tanpa prasangka, bukankah kita akan merasa lebih bebas sebagai manusia? Cinta itu fitrah, artinya cinta kepada makhluk adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Segala perasaan unik yang timbul karenanya itulah yang mesti dikelola dengan baik. Sebagaimana Islam mengatur bahwa objek cinta yang paling utama adalah kepada Allah, Rasulullah, dan Jihad di jalanNya. Setelahnya barulah kepada makhluk, tentu saja yang pertama adalah keluarga kita.
Mengelola perasaan itu tidak mudah, jika rasa tertarik kepada makhluk menggerogoti pikiran tentu saja hal itu akan mempengaruhi tindakan. Kalaulah perasaan diatur senada dengan aturan agama, maka kegundahan dan kegelisahan mestinya tidak akan menguasai diri. Perasaan rindu, harapan, juga kecewa tidak akan mengambil alih fitrahnya cinta itu.
Bisa karena terbiasa. Terbiasa menajemen rasa akan membuat seseorang lebih fokus pada tujuan hidupnya. Tidak akan dibantai oleh perasaan yang sama sekali tidak memberi manfaat. Jika kita mau menyadari hal ini, bahwa harusnya cinta kita hanya ditautkan pada Allah, Dia yang memberi ketenangan dan kedamaian, apalagi hanya untuk urusan hati. Bukankah kita akan merdeka dari ketergantungan pada manusia lain?
Hasbunallah wa ni'mal wakiil...
Hmm. Ujian Cinta.
BalasHapusRumit yah, ketika cinta berlabuh bukan pada tempatnya...