Selasa, 23 Juni 2020

Ekspektasi Tinggi

Ekspektasi tinggi terhadap seseorang atau suatu hal akan menghantarkan kita pada harapan-harapan yang tinggi pula. Sesaat mungkin akan menenangkan, namun jika tidak sesuai harapan maka hanya akan menyisakan luka dalam. Benar, kan?

Belum melakukan apa-apa, sudah menawarkan perasaan pada taman-taman yang mungkin saja menghadirkan luka. Belum mengetahui apa yang akan terjadi nanti, sudah mengharapkan harumnya mawar merah yang bisa dinikmati kapan saja.

Mengapa seseorang dengan mudahnya menaruh ekspektasi tinggi? Selalu menduga-duga dan inginnya yang terbaik. Ya... Itu sudah menjadi tabiat manusia. Namun, yang tidak tepat adalah bila ekspektasi tinggi itu ditujukan terhadap manusia lainnya. Apa istimewanya manusia lain yang pada dasarnya juga suka menduga-duga?

Maka penting bagi kita belajar untuk tidak terlalu obsessive dan hidup dengan pemikiran yang seadanya, dalam artian tidak menggebu-gebu menilai sesuatu. Melabuhkan harapan dan keinginan bukan pada manusia. Berusaha untuk menghindarkan hati dari berbagai probabilitas yang kapan saja mampu menjatuhkan diri pada jurang kekecewaan.

Bagiku... Obat dari perasaan yang terlalu mengharapkan lebih terhadap seseorang ataupun setiap keadaan adalah dengan membiuskan pemikiran yang sebaliknya. Bukan merendahkan ataupun membawa perasaan pada kegalauan. Sejatinya kita perlu untuk mengendalikan perasaan agar tidak terbawa suasana hati yang selalu menginginkan lebih. Membawa diri dan perasaan dalam keadaan yang biasa-biasa saja. Kadangkala kita juga perlu bercermin untuk melihat seberapa pantas diri kita dengan bermacam-macam ekspektasi tinggi yang ada di kepala kita.

Faktanya, berekspektasi tinggi terhadap Allah-lah yang tidak menghadirkan kecewa. Karena manusia-manusia yang seperti itu tahu bahwa apapun yang Allah beri adalah yang terbaik dan Allah tidak pernah mendzolimi hamba-hambaNya. Allah tahu bahwa manusia terkadang suka melampaui batas, maka Dia akan menggantikan itu dengan solusi-solusi terbaik-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KKN's Story

[Luwu Timur, 27 Juni 2022 - 20 Agustus 2022] Tak terasa, waktu bagai angin lalu yang sepersekian detik menerpa tubuhku.. Masa 55 hari ber-KK...